Showing posts with label Dreaming Movement. Show all posts
Showing posts with label Dreaming Movement. Show all posts

Monday, February 21, 2011

Tanpa itu semua..KITA BISA !!

Sedih sekali membaca status FB seorang keponakan yang kecewa pada keputusan pemerintah untuk menaikkan pajak impor film hingga ia ingin cepat- cepat keluar dari Indonesia. Sebenarnya saya pun merasa lebih indah jika pemerintah sebelum membuat kebijakan seyogyanya mensosialisasikan terlebih dahulu pada masyarakat, melalui diskusi dan lain - lain.

Kembali ke persoalan..hilangnya film holywood dari peredaran...sejujurnya saya tidak terlalu bersedih hati. Don't get me wrong..saya pencinta film2 keluaran mereka spt Pretty woman, You've Got Mail dan Avatar. Film- film tersebut menginspirasi dan termasuk film yang saya tonton berulang - ulang.

Akan tetapi, saya ingat sewaktu saya kecil, bioskop kita penuh oleh film - film Indonesia yang bermutu seperti Naga Bonar dan lain - lain. Ajang Piala Citra benar - benar bergengsi kala itu. Entah kenapa di tahun 1990an, perfilman Indonesia mati suri, terakhir yang saya ingat bertahan di bioskop hanya film - film komedi seperti Kanan Kiri OK atau Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Entah rumor ini benar atau tidak, tapi saya pernah dengar masuknya film- film Holywood kala itu adalah hasil barter pemerintahan, ketika Indonesia berniat mengekspor textil atau apalah tapi terhambat proteksi USA, hasilnya negosiasinya..katanya..kita boleh eksport ke US tapi film Holywood boleh banjir masuk Indonesia...(bener ga sih berita ini..tolong diluruskan kalau salah karena ketika itu saya masih terlalu kecil utk mengerti politik..hehe....mungkin cuma rumor belaka...). Yang jelas, saya masih ingat ketika itu para sutradara dan produser kelas kakap banyak sekali yang kecewa dengan keputusan itu.

Mengenai hilangnya film - film holywood di jakarta, mudah - mudahan ini menjadi langkah penting dalam kehidupan seni di Indonesia. Mudah - mudahan kita bisa bangkit dari orang - orang yang hanya duduk manis menonton film menjadi orang - orang yang berkreasi membuat film. Mudah - mudahan bukan hanya bioskop yang penuh dengan film - film produksi nasional, tapi teater kita pun penuh dengan pertunjukan - pertunjukan seni karya anak bangsa. Street performers atau pekerja seni jalanan pun harus bangkit agar kita bisa menikmati pertunjukan yang gratis tapi tetap bermutu.

Negara kita diwarisi kebudayaan luhur yang dekat dengan seni. Bangsa kita penuh dengan budaya seni yang mumpuni dari mulai lenong betawi, lakon Srimulat sampai gelar adikarya Swara Mahardika, saya masih ingat itu semua. Harapan saya, ketika saya kembali ke Indonesia nanti, pusat seni, gedung teater dan bahkan gedung Opera tumbuh subur di Indonesia (di tiap kota khususnya bukan hanya di jakarta), saya ingin anak saya, Omar bisa pergi mengunjungi teater khusus untuk anak - anak di Jakarta seperti yang dia alami di Jerman. Saya ingin setiap berkunjung ke sebuah kota di Indonesia, mengunjungi teater lokal yang menyuguhkan kebudayaan seni khas daerah tersebut menjadi tujuan utama saya, seperti layaknya nonton tari kecak di Ubud bali atau tari Sedauti di sebuah gedung opera berakustik canggih di Aceh dan lain sebagainya. Lebih banyak lagi konser - konser musik dari yang bertaraf Internasional sampai lokal (kabarnya pemusik di Jerman bayarannya paling mahal karena konser musik tidak pernah sepi pengunjung di sini.). Kalau pekerja seni dibukakan tempat untuk berkarya, negara kita akan jauh maju lebih pesat dari sekarang. 

Saya ingin munculnya banyak pilihan pertunjukkan di Indonesia yang bisa dinikmati semua kalangan bukan hanya untuk orang yang berpunya saja. Saat ini rasanya seperti tidak ada pilihan lain selain pergi ke Mall untuk berekreasi atau pergi menonton bioskop adalah hiburan yang termurah untuk raga penglihatan kita..(again don't get me wrong..going on a date to cinema is by far my favorite things to do). Tapi kalo diberikan pilihan lain seperti misalnya kemarin pertunjukan teater musikal laskar pelangi, pasti masyarakat pun akan memilih yang terbaik. Atau pertunjukan - pertunjukan seni jalanan yang di gelar di taman terbuka, saya yakin tak kalah menariknya

Semua itu harapan saya, my kind of dreaming movement yang saya impikan. Semoga.



"Artists create identities for cultures and societies"

Wednesday, April 21, 2010

Hari ini, hari Kartini ?

Benarkah hari ini hari Kartini? Hari emansipasi kaum perempuan di seluruh Indonesia? Mengapa hari ini rasanya seperti hari batik nasional? Selain ucapan Selamat Hari Kartini, saat ini yang terlihat dimana - mana adalah orang memakai batik atau baju tradisional Indonesia lainnya. Hanya sebagai simbolkah? Mengapa tidak ada hari Tjut Nyak Dien atau hari pahlawan wanita lainnya ?

Banyak sekali perempuan Indonesia yang sudah berhasil dengan pencapaian luar biasa, tapi tidak sedikit juga yang masih berada jauh di belakang garis kemiskinan. Melihat anak remaja putus sekolah yang hanya lulusan SMP bahkan lulusan SD lalu menjadi pembantu rumah tangga di Jakarta, apa kata Kartini kalau beliau masih hidup ya...

Ah, ga mau mikir yang berat - berat, foto perempuan membatik yang saya cantumkan di tulisan saya menurut saya bisa juga jadi inspirasi, betapa dedikasi perempuan Indonesia untuk menghidupi keluarganya sangat tinggi, daripada harus mengemis ataupun bekerja dengan pekerjaan yang merendahkan martabat diri sendiri. Saya pernah mendengar cerita bahwa di salah satu daerah di Indonesia, setiap anak perempuan di dalam satu rumah tangga harus bisa menenun atau membatik. Kain tersebutlah yang biasanya digunakan untuk membayar sekolah sang anak atau dijual untuk hidup sehari - hari. Perempuan Indonesia terkenal punya 'pride' yang tinggi, walaupun halus dan rendah hati sebenarnya dalam jiwanya yang paling dalam mereka tidak pernah bisa dibeli.

"Setiap manusia mempunyai bagian jiwa yang lemah dan amat miskin yang bisa dibeli, dan dia juga tahu bahwa setiap manusia juga memiliki bagian jiwa yang kuat dan penuh ketetapan hati yang tidak pernah dapat dibeli." (Robert K, Rich dad Poor dad)

Paling tidak itu bentuk perjuangan ibu Kartini di masa lampau yang masih bisa diambil hikmahnya sampai sekarang, bahwa di tangan kita, kaum perempuan, apapun bisa dilakukan dan dicapai dengan dedikasi dan keteguhan hati untuk memperbaiki diri, keluarga dan membantu sesama perempuan di mana pun kita berada semampu kita. Semoga.

Wednesday, March 3, 2010

Heirloom

I have been thinking about my family heirlooms after reading Garance Dore's Le Kelly post. Most Indonesian women passing their daughter, pieces of batik cloths (or songket) as their precious heirloom. Sometimes pieces of jewelries are also being passed down generations after generations.

For me, because I am an only daughter, my mother passed me down so many songket and batik cloths....but what I want to show you here is my antique bag that my mother gave me. She had it from my grandmother. I love this small silver beads bag and use it to so many wedding parties. This piece of old bag always hold special places inside my cupboard (and in my heart too..hehe).


Come to think about family heirloom, I thought a lot about family legacies too...what has been passed down to the next generations...not only antiques jewelries and valuable inheritance but also a way of thinking and how to see the world. I read an interesting article 2 years ago (yes..and I still kept it)..and I will share it with you here :

"Arsitek kondang Tan Tjiang Ay berkata bahwa yang ditinggalkan seorang arsitek ketika "tutup buku", bukanlah benda mati seperti bangunannya, tetapi "legacy" nya, yaitu dampak dan kualitas positif yang bisa menginspirasi menjadi proses penyemangat, bahkan landasan action dan pola pikir bagi penerusnya.

If you lead a meaningful life, you never really die. The legacy you leave is the legacy you live.

Legacy adalah kualitas positif, spirit, penyemangat, nilai dan dampak positif yang menjadi landasan kehidupan seterusnya yang lebih baik. Legacy yang kita turunkan juga akan menggambarkan visi dan obsesi kita selama hidup. Semakin jelas visi dan kuat obsesi kita, semakin besar dampaknya.

Mewariskan kekayaan sampai tujuh turunan tidak termasuk membuat legacy. Berarti terkadang membuat legacy lebih sulit daripada sekedar mengumpulkan kekayaan supaya bisa menjadi warisan. Cara kita hidup, berkata-kata dan mengambil esensi dari kualitas kehidupan, kemudian mentransfernya ke dalam kebijakan, peraturan dan sistemlah yang perlu kita tata. Sehingga pada akhirnya tindakan dan kata- kata kita akan bergaung jauh ke depan"
(Kompas, Sabtu 2 Februari 2008 - "Warisan" Eileen Rahman dan Sylvina Savitri)

So..are we ready to create our own legacy ?

Wednesday, November 18, 2009

Creative Movement Indonesia Launched !!


A year ago I wrote about dreaming movement on my blog. I think the day will come when other Indonesian people will share the same ideas about this kind of movement.

Last night I was attending an event held in Jakarta that I hope it could represent what I have in mind. Several creative people established a website Creative Movement Indonesia to empower people to create more and do more for our society. I hope this movement will go forward in speed and there will be lots of friends joining this movement. Congratulations !

Monday, November 16, 2009

One inspiring night

I just got back from British Council's Global Enterpreneurship Week event. The event today was organized by Pecha Kucha Jakarta, several people sharing their ideas to the audience, the theme is Agent of Change.

Some of the presenter are very interesting to me. They are Red Nose Circus and Green Lifestyle. I think you should click the to get to know more about them.But for me simple mind that could create simple idea sometime would contribute a lot to our society. Each of us could be the agent of change and I believe we could do more starting from today.

Thursday, June 26, 2008

Dreaming Movement

A little while a go I posted a shout out on my facebook that I would like to start "a dreaming movement" in Jakarta, several of my friends questioned me about what I meant being on a dreaming movement.So here is my explanation...

One beautiful morning in London I rushed into a seminar class held by London Book Fair committee about "Women Literature in the Arab World". One of the speakers was a women whose books has been translated in so many languages and had been read all over the world. One of the audiences asked whether her works has been a feminist movement or a writer movement from women in Arab. The writer answered that her work are not reflects on either a feminist or a writer movement but they are more reflect on a dreaming movement. A movement starts from her dream. Her dreams of more peace in Arab world and her dreams of a better place to live for women around the world.

I was moved by her statement. Out of frustration sometimes I thought why can't Indonesian women have an author like that, an author that can inspired thousand of people to move Indonesia forward. All it takes is just to dream and make it happen, just like that. Of course it's not always that simple to make our dreams come true, but if we try and start from our own dream, it won't be impossible if one day we can build a better Indonesia.We are often trapped in our own mindset and wondered what should we do, what contribution should we make to better our nation...We are seldom realize that small things do matters, small act do make a difference and small thought sometimes do make a change.

Later on when I arrived in Jakarta, I read two good articles describing what I have in mind about dreaming movement :
"Yang membelenggu kita bukan kekuatan - kekuatan luar, entah itu negara agresor, merek ternama, atau Hollywood. Tapi justru jiwa yang sempit, pikiran yang kerdil dan imajinasi yang pandaklah yang memenjara kita. Jelas di situ tersirat, sebagai sebuah bangsa, waktu seolah terhenti dalam diri kita. Kita tidak mampu membuat waktu itu "berjalan" karena kita tidak memiliki satu hal yang membuat roda waktu berderak : ide". (Radhar Panca Dahana, Tempo Kebangkitan Nasional)

"Apakah sebuah gagasan-katakanlah gagasan mengenai nasionalisme- bisa berfungsi seperti sebuah ayat, yang dengan itu lalu terjadi semacam proses nubuatan, sebuah bangsa kemudian bangkit, mengepalkan tangan satu padu bulat tekad menuju merdeka ?
Banyak hal membuktikan, kesadaran bangkit disebabkan hal - hal kecil, dari perubahan yang sering tak teramati karena sifat kesehariannya, yang betapapun dibaliknya sebenarnya tersimpan sebuah gerak modernisasi". (Bre Redana, Kompas 19 Mei 2008).


Those thought are inspiring in so many ways considering our country conditions these days.We need more people to act and to lead us getting through all the challenges we face today. "The secret of the future is here in the present. If you pay attention to the present, you can improve upon it and if you improve on the present, what comes later will also be better".(The Alchemist, Paolo Coelho)

LinkWithin

Related Posts with Thumbnails